11:28 PM
11:28 PM
12:16 AM
Kata Iis Dahlia
- Secangkir teh dan segelas kopi hitam pada suatu sore yang anggun.
- -
- Teh: Kau bilang kau sudah melepaskannya.
- Kopi: Sudah.
- Teh: Lalu?
- Kopi: (menghela nafas)
- Teh: Harusnya kau senang. Ia sudah bisa lepas darimu sekarang. Bukankah itu yg dulu selalu kau inginkan? Kau benci keterikatan kan?
- Kopi: Ya. Tapi aku menginginkannya sekarang.
- Teh: What?
- Kopi: Bukan keterikatannya yang aku inginkan. Aku ingin ia ada. Sosoknya. Aku kehilangan.
- Teh: Rasakan.
- Kopi: Sialan.
- Teh: Salahmu.
- Kopi: Aku tahu. Tapi bagaimana bisa dari pohonnya yang meranggas daun-daun bertunas kembali?
- Teh: Meranggas kan tidak mati.
- Kopi: Apa ia juga begitu?
- Teh: Mana aku tahu.
- Kopi: Aku merasakan cemburu itu.
- Teh: Pada siapa?
- Kopi: Perempuan-perempuan abu-abu.
- Teh: Abu-abu?
- Kopi: Aku tidak tahu siapa, aku tidak tahu berapa banyak, tapi aku merasakannya.
- Teh: Sok tahu.
- Kopi: Kau lupa ya aku bisa menembus dimensi?
- Teh: Selalu curang.
- Kopi: Takdir.
- Teh: Kenapa harus cemburu? Kau sendiri yang melepaskannya. Siapa suruh.
- Kopi: Melepaskan kan bukan berarti merelakan.
- Teh: Jangan bermain kata-kata.
- Kopi: Aku akan selalu iri pada perempuan yang mendapatkan hatinya nanti.
- Teh: Ayolah. Mungkin kau hanya rindu.
- Kopi: Aku selalu rindu. Selalu. Aku hanya terlalu gengsi untuk mengatakannya. Selalu begitu, sepanjang waktu.
- Teh: Katakan saja. Ia akan mengerti.
- Kopi: Bagaimana jika ia tidak rindu aku? (menyalakan radio)
- -
- " ... kalau hatiku sedang rindu
- pada siapa ku mengadu
- karna hati bertanya selalu
- berlinanglah air mataku
- akan ku cari walau kemana
- kini aku berkelana ke ujung dunia
- akan ku cari
- rindu mengapa rindu hatiku tiada tertahan
- kau tinggalkan aku seorang ... "
11:48 PM
apa yang tersisa?
kita semua sedang berjalan
ada yang jalan cepat
ada yang jalan lambat
-
kita semua sedang berjalan
bersama-sama
sendiri-sendiri
-
kita semua sedang berjalan
satu kali satu jurusan
lain kali beda jurusan
-
kita semua sedang berjalan
tanpa pernah sadar kita sedang berjalan
karena asyiknya masa kini
—
kita nikmati itu lagu-lagu
kita nikmati itu dansa-dansi
kita nikmati itu breakfast-brunch-lunch-dinner-latesupper
kita nikmati itu film di bioskop
kita nikmati itu foto-foto
kita nikmati itu tugas-tugas
kita nikmati itu romansa dewasa muda
kita nikmati itu tanggung jawab
kita nikmati itu cerca hina
kita nikmati itu puja puji
kita nikmati itu kasur-sofa-bangku
kita nikmati itu tangis-senyum
kita nikmati itu lelah
kita nikmati itu dialektika-debat-kesimpulan
kita nikmati itu pembelajaran
kita nikmati itu maaf dan penyeselan
kita nikmati itu kerinduan di antara kita
—
we are golden
we are shining like a star
—
and life must go on
—
kita kembali berjalan
menuju jalan yang lebih panjang
menuju jalan yang penuh aral
menuju jalan yang lebih sepi
—
apa yang tersisa?
apa yang tersisa muncul lewat pelukan
apa yang tersisa muncul lewat senyuman
apa yang tersisa muncul lewat tatapan
apa yang tersisa muncul lewat jabat tangan
-
saat yang tersisa muncul di dalam tindakan
di dalam hati kita senang, haru, bahagia, dan bangga
—
untuk teman-teman yang dipilih oleh Tuhan secara acak dan misterius untuk duduk bersama di arsitektur ITB mulai tahun 2006.
Rivers & Roads
by The Head And The Heart
(From Trisna, 6 Mei 2012, 02:15 am)
A year from now we’ll all be gone
All our friends will move away
And they’re goin’ to better places
But our friends will be gone away
Nothin’ is as it has been
And I miss your face like hell
And I guess it’s just as well
But I miss your face like hell
Been talkin’ ‘bout the way things change
And my family lives in a different state
If you don’t know what to make of this
Then we will not relate
So if you don’t know what to make of this
Then we will not relate
Rivers and roads
Rivers and roads
Rivers till I reach you
12:21 AM
#symphonesia | 5 Mei at Sabuga | @GodBlessRocks @Sheilaon7 @wsatcc @thesigit @Alone_At_Last @bottlesmoker @MorgenbisAbend & more | HTM 75k
Reason to be there: God Bless, Sheila on 7, White Shoes and The Couples Company, The Sigit, Bottlesmoker.
Pertanyaannya tinggal: Siapa yang bersedia gw culik atau mau nonton bareng?
Pemahaman yang baik mengenai peran-peran tersabut niscaya tidak akan menimbulkan istilah ‘mantan teman’ walaupun tetap tidak bisa mengnyingkirkan istilah ‘mantan pencinta’.
Demikianlah teorinya.
Teras, teh, tesis.








